Mahabharata (Sanskerta: महाभारत) adalah sebuah karya sastra kuno yang
berasal dari India. Secara tradisional, penulis Mahabharata adalah
Begawan Byasa atau Vyasa. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab,
maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab).
Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan
kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang
dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi.
Mahābhārata merupakan kisah epik yang terbagi menjadi delapan belas kitab atau sering disebut Astadasaparwa. Rangkaian kitab menceritakan kronologi peristiwa dalam kisah Mahābhārata, yakni semenjak kisah para leluhur Pandawa dan Korawa (Yayati, Yadu, Puru, Kuru, Duswanta, Sakuntala, Bharata) sampai kisah diterimanya Pandawa di surga.
Di India ditemukan dua versi utama Mahabharata dalam bahasa Sanskerta yang agak berbeda satu sama lain. Kedua versi ini disebut dengan istilah "Versi Utara" dan "Versi Selatan". Biasanya versi utara dianggap lebih dekat dengan versi yang tertua.
Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.
Mahābhārata merupakan kisah epik yang terbagi menjadi delapan belas kitab atau sering disebut Astadasaparwa. Rangkaian kitab menceritakan kronologi peristiwa dalam kisah Mahābhārata, yakni semenjak kisah para leluhur Pandawa dan Korawa (Yayati, Yadu, Puru, Kuru, Duswanta, Sakuntala, Bharata) sampai kisah diterimanya Pandawa di surga.
Di India ditemukan dua versi utama Mahabharata dalam bahasa Sanskerta yang agak berbeda satu sama lain. Kedua versi ini disebut dengan istilah "Versi Utara" dan "Versi Selatan". Biasanya versi utara dianggap lebih dekat dengan versi yang tertua.
Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.
Latar belakang.
Mahabharata merupakan kisah kilas balik yang dituturkan oleh Resi Wesampayana untuk Maharaja Janamejaya yang gagal mengadakan upacara korban ular. Sesuai dengan permohonan Janamejaya, kisah tersebut merupakan kisah raja-raja besar yang berada di garis keturunan Maharaja Yayati, Bharata, dan Kuru, yang tak lain merupakan kakek moyang Maharaja Janamejaya. Kemudian Kuru menurunkan raja-raja Hastinapura yang menjadi tokoh utama Mahabharata. Mereka adalah Santanu, Chitrāngada, Wicitrawirya, Dretarastra, Pandu, Yudistira, Parikesit dan Janamejaya.
Mahabharata banyak memunculkan nama raja-raja besar pada zaman India Kuno seperti Bharata, Kuru, Parikesit (Parikshita), dan Janamejaya. Mahabharata merupakan kisah besar keturunan Bharata, dan Bharata adalah salah satu raja yang menurunkan tokoh-tokoh utama dalam Mahabharata.
Mahabharata merupakan kisah kilas balik yang dituturkan oleh Resi Wesampayana untuk Maharaja Janamejaya yang gagal mengadakan upacara korban ular. Sesuai dengan permohonan Janamejaya, kisah tersebut merupakan kisah raja-raja besar yang berada di garis keturunan Maharaja Yayati, Bharata, dan Kuru, yang tak lain merupakan kakek moyang Maharaja Janamejaya. Kemudian Kuru menurunkan raja-raja Hastinapura yang menjadi tokoh utama Mahabharata. Mereka adalah Santanu, Chitrāngada, Wicitrawirya, Dretarastra, Pandu, Yudistira, Parikesit dan Janamejaya.
Mahabharata banyak memunculkan nama raja-raja besar pada zaman India Kuno seperti Bharata, Kuru, Parikesit (Parikshita), dan Janamejaya. Mahabharata merupakan kisah besar keturunan Bharata, dan Bharata adalah salah satu raja yang menurunkan tokoh-tokoh utama dalam Mahabharata.
Kisah Sang Bharata diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan
Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa
keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa,
kemudian menurunkan Sang Bharata, raja legendaris. Sang Bharata lalu
menaklukkan daratan India Kuno. Setelah ditaklukkan, wilayah kekuasaanya
disebut Bharatawarsha yang berarti wilayah kekuasaan Maharaja Bharata
(konon meliputi Asia Selatan).
Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, yang kemudian mendirikan sebuah
pusat pemerintahan bernama Hastinapura. Sang Hasti menurunkan Para Raja
Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang Kuru, yang menguasai
dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut Kurukshetra (terletak di
negara bagian Haryana, India Utara). Sang Kuru menurunkan Dinasti Kuru
atau Wangsa Kaurawa. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pratipa, yang
menjadi ayah Prabu Santanu, leluhur Pandawa dan Korawa.
Kerabat Wangsa Kaurawa (Dinasti Kuru)
adalah Wangsa Yadawa, karena kedua Wangsa tersebut berasal dari leluhur
yang sama, yakni Maharaja Yayati, seorang kesatria dari Wangsa Chandra
atau Dinasti Soma, keturunan Sang Pururawa. Dalam silsilah Wangsa
Yadawa, lahirlah Prabu Basudewa (Krisna) , Raja di Kerajaan Surasena,
yang kemudian berputera Sang Kresna, yang mendirikan Kerajaan Dwaraka.
Sang Kresna dari Wangsa Yadawa bersaudara sepupu dengan Pandawa dan
Korawa dari Wangsa Kaurawa.
Prabu Santanu dan keturunannya
Prabu Santanu dan keturunannya
Beberapa tahun kemudian, Prabu Santanu melanjutkan kehidupan berumah
tangga dengan menikahi Dewi Satyawati, puteri nelayan. Dari hubungannya,
Sang Prabu berputera Sang Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada
wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh
adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan
belum sempat memiliki keturunan. Atas bantuan Resi Byasa, kedua istri
Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, melahirkan masing-masing
seorang putera, nama mereka Pandu (dari Ambalika) dan Dretarastra (dari
Ambika).
Dretarastra terlahir buta, maka tahta Hastinapura diserahkan kepada
Pandu, adiknya. Pandu menikahi Kunti kemudian Pandu menikah untuk yang
kedua kalinya dengan Madrim, namun akibat kesalahan Pandu pada saat
memanah seekor kijang yang sedang kasmaran, maka kijang tersebut
mengeluarkan (Supata=Kutukan) bahwa Pandu tidak akan merasakan lagi
hubungan suami istri, dan bila dilakukannya, maka Pandu akan mengalami
ajal. Kijang tersebut kemudian mati dengan berubah menjadi wujud aslinya
yaitu seorang pendeta.
Kemudian karena mengalami kejadian buruk seperti itu, Pandu lalu mengajak kedua istrinya untuk bermohon kepada Hyang Maha Kuasa agar dapat diberikan anak. Lalu Batara guru mengirimkan Batara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahir anak yang pertama yaitu Yudistira Kemudian Batara Guru mengutus Batara Indra untuk membuahi Dewi Kunti shingga lahirlah Harjuna, lalu Batara Bayu dikirim juga untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Bima, dan yang terakhir, Batara Aswin dikirimkan untuk membuahi Dewi Madrim, dan lahirlah Nakula dan Sadewa. Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa.
Kemudian karena mengalami kejadian buruk seperti itu, Pandu lalu mengajak kedua istrinya untuk bermohon kepada Hyang Maha Kuasa agar dapat diberikan anak. Lalu Batara guru mengirimkan Batara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahir anak yang pertama yaitu Yudistira Kemudian Batara Guru mengutus Batara Indra untuk membuahi Dewi Kunti shingga lahirlah Harjuna, lalu Batara Bayu dikirim juga untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Bima, dan yang terakhir, Batara Aswin dikirimkan untuk membuahi Dewi Madrim, dan lahirlah Nakula dan Sadewa. Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa.
Dretarastra yang buta menikahi
Gandari, dan memiliki seratus orang putera dan seorang puteri yang
dikenal dengan istilah Korawa. Pandu dan Dretarastra memiliki saudara
bungsu bernama Widura. Widura memiliki seorang anak bernama Sanjaya,
yang memiliki mata batin agar mampu melihat masa lalu, masa sekarang,
dan masa depan.
Keluarga Dretarastra, Pandu, dan Widura membangun jalan cerita Mahabharata.
- Pandawa
Pandawa dan Korawa merupakan dua kelompok dengan sifat yang berbeda
namun berasal dari leluhur yang sama, yakni Kuru dan Bharata. Korawa
(khususnya Duryodana) bersifat licik dan selalu iri hati dengan
kelebihan Pandawa, sedangkan Pandawa bersifat tenang dan selalu bersabar
ketika ditindas oleh sepupu mereka.
- Korawa
Istilah Korawa yang digunakan dalam Mahabharata memiliki dua pengertian:
- Arti luas: Korawa merujuk kepada seluruh keturunan Kuru. Kuru adalah nama seorang maharaja yang merupakan keturunan Bharata, dan menurunkan tokoh-tokoh besar dalam wiracarita Mahabharata. Dalam pengertian ini, Pandawa juga termasuk Korawa, dan kadangkala disebut demikian dalam Mahabharata, khususnya pada beberapa bagian awal.
- Arti sempit: Korawa merujuk kepada garis keturunan Kuru yang lebih tua. Istilah ini hanya terbatas untuk anak-anak Dretarastra, sebab Dretarastra merupakan putra sulung Wicitrawirya (keturunan Raja Kuru), yang berhak menjadi raja menurut urutan kelahiran namun digantikan oleh adiknya, Pandu, karena Dretarastra buta. Istilah ini tidak mencakup anak-anak Pandu, yang mendirikan garis keturunan baru, yaitu para Pandawa.
Dalam budaya pewayangan Jawa, istilah ini merujuk kepada kelompok antagonis dalam wiracarita Mahabharata, sehingga Korawa adalah musuh bebuyutan para Pandawa.
Ayah para Korawa, yaitu Dretarastra, sangat menyayangi putera-puteranya.
Hal itu membuat ia sering dihasut oleh iparnya yaitu Sangkuni, beserta
putera kesayangannya yaitu Duryodana, agar mau mengizinkannya melakukan
rencana jahat menyingkirkan para Pandawa.
Perseteruan tiada akhir.
Perseteruan tiada akhir.
Pada suatu ketika, Duryodana mengundang Kunti dan para Pandawa untuk
liburan. Disanamereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan
oleh Duryodana. Pada malam hari, rumah itu dibakar.
Namun para Pandawa diselamatkan oleh Bima sehingga mereka tidak terbakar
hidup-hidup dalam rumah tersebut. Usai menyelamatkan diri, Pandawa dan
Kunti masuk hutan. Di hutan tersebut Bima bertemu dengan rakshasa
Hidimba dan membunuhnya, lalu menikahi adiknya, yaitu rakshasi Hidimbi.
Dari pernikahan tersebut, lahirlah Gatotkaca.
Setelah melewati hutan rimba, Pandawa melewati Kerajaan Panchala.
Disanatersiar kabar bahwa Raja Drupada menyelenggarakan sayembara
memperebutkan Dewi Dropadi. Karna mengikuti sayembara tersebut, tetapi
ditolak oleh Dropadi. Pandawa pun turut serta menghadiri sayembara itu,
namun mereka berpakaian seperti kaum brahmana.
Arjuna mewakili para Pandawa untuk memenangkan sayembara dan ia berhasil
melakukannya. Setelah itu perkelahian terjadi karena para hadirin
menggerutu sebab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti sayembara.
Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainya di rumah, mereka
berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta.
Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh
saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya
tidak hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Tak
pelak lagi, Dropadi menikahi kelima Pandawa.
Permainan dadu
Agar tidak terjadi pertempuran sengit, Kerajaan Kuru dibagi dua untuk dibagi kepada Pandawa dan Korawa. Korawa memerintah Kerajaan Kuru induk (pusat) dengan ibukota Hastinapura, sementara Pandawa memerintah Kerajaan Kurujanggala dengan ibukota Indraprastha.
Baik Hastinapura maupun Indraprastha memiliki istana megah, dan di
sanalah Duryodana tercebur ke dalam kolam yang ia kira sebagai lantai,
sehingga dirinya menjadi bahan ejekan bagi Dropadi. Hal tersebut
membuatnya bertambah marah kepada para Pandawa.
Untuk merebut kekayaan dan kerajaan Yudistira secara perlahan namun
pasti, Duryodana mengundang Yudistira untuk main dadu dengan taruhan
harta dan kerajaan. Yudistira yang gemar main dadu tidak menolak
undangan tersebut dan bersedia datang ke Hastinapura dengan harapan
dapat merebut harta dan istana milik Duryodana.
Pada saat permainan dadu, Duryodana diwakili oleh Sangkuni yang memiliki
kesaktian untuk berbuat curang. Satu persatu kekayaan Yudistira jatuh
ke tangan Duryodana, termasuk saudara dan istrinya sendiri.
Dalam peristiwa tersebut, pakaian Dropadi berusaha ditarik oleh
Dursasana karena sudah menjadi harta Duryodana sejak Yudistira kalah
main dadu, namun usaha tersebut tidak berhasil berkat pertolongan gaib
dari Sri Kresna. Karena istrinya dihina, Bima bersumpah akan membunuh
Dursasana dan meminum darahnya kelak. Setelah mengucapkan sumpah
tersebut, Dretarastra merasa bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya,
maka ia mengembalikan segala harta Yudistira yang dijadikan taruhan.
Duryodana yang merasa kecewa karena Dretarastra telah mengembalikan
semua harta yang sebenarnya akan menjadi miliknya, menyelenggarakan
permainan dadu untuk yang kedua kalinya. Kali ini, siapa yang kalah
harus menyerahkan kerajaan dan mengasingkan diri ke hutan selama 12
tahun, setelah itu hidup dalam masa penyamaran selama setahun, dan
setelah itu berhak kembali lagi ke kerajaannya. Untuk yang kedua
kalinya, Yudistira mengikuti permainan tersebut dan sekali lagi ia
kalah. Karena kekalahan tersebut, Pandawa terpaksa meninggalkan kerajaan
mereka selama 12 tahun dan hidup dalam masa penyamaran selama setahun.
Setelah masa pengasingan habis dan sesuai dengan perjanjian yang sah,
Pandawa berhak untuk mengambil alih kembali kerajaan yang dipimpin
Duryodana. Namun Duryodana bersifat jahat. Ia tidak mau menyerahkan
kerajaan kepada Pandawa, walau seluas ujung jarum pun. Hal itu membuat
kesabaran Pandawa habis. Misi damai dilakukan oleh Sri Kresna, namun
berkali-kali gagal. Akhirnya, pertempuran tidak dapat dielakkan lagi.
Misi Damai Sri Kresna / Dharmaduta
Sebelum keputusan untuk berperang diumumkan, para Pandawa berusaha
mencari sekutu dengan mengirimkan surat permohonan kepada para Raja di
daratan India Kuno agar mau mengirimkan pasukannya untuk membantu para
Pandawa jika perang besar akan terjadi. Begitu juga yang dilakukan oleh
para Korawa, mencari sekutu. Hal itu membuat para Raja di daratan India
Kuno terbagi menjadi dua pihak, pihak Pandawa dan pihak Korawa.
Sementara itu, Kresna mencoba untuk melakukan perundingan damai. Kresna
pergi ke Hastinapura untuk mengusulkan perdamaian antara pihak Pandawa
dan Korawa. Namun Duryodana menolak usul Kresna dan merasa dilecehkan,
maka ia menyuruh para prajuritnya untuk menangkap Kresna sebelum
meninggalkan istana.
Tetapi Kresna bukanlah manusia biasa. Ia mengeluarkan sinar menyilaukan
yang membutakan mata para prajurit Duryodana yang hendak menangkapnya.
Pada saat itu pula ia menunjukkan bentuk rohaninya yang hanya disaksikan
oleh tiga orang berhati suci: Bisma, Drona, dan Widura.
Setelah Kresna meninggalkan istana Hastinapura, ia pergi ke Uplaplawya
untuk memberitahu para Pandawa bahwa perang tak akan bisa dicegah lagi.
Ia meminta agar para Pandawa menyiapkan tentara dan memberitahu para
sekutu bahwa perang besar akan terjadi.
Persiapan perang
Kresna tidak bersedia bertempur secara pribadi. Ia mengajukan pilihan kepada para Pandawa dan Korawa, bahwa salah satu boleh meminta pasukan Kresna yang jumlahnya besar sementara yang lain boleh memanfaatkan tenaganya sebagai seorang ksatria. Mendapat kesempatan itu, Arjuna dan Duryodana pergi ke Dwaraka untuk memilih salah satu dari dua pilihan tersebut.
Duryodana jenius di bidang politik, maka ia memilih tentara Kresna.
Sedangkan para Pandawa yang diwakili Arjuna, bersemangat untuk meminta
tenaga Sri Kresna sebagai seorang penasihat dan memintanya agar
bertempur tanpa senjata dimedan laga. Sri Kresna bersedia mengabulkan
permohonan tersebut, dan kedua belah pihak merasa puas.
Pandawa telah mendapatkan tenaga Kresna, sementara Korawa telah
mendapatkan tentara Kresna. Persiapan perang dimatangkan. Sekutu kedua
belah pihak yang terdiri dari para Raja dan ksatria gagah perkasa dengan
diringi pasukan yang jumlahnya sangat besar berdatangan dari berbagai
penjuru India dan berkumpul di markasnya masing-masing.
Pandawa memiliki tujuh divisi sementara Korawa memiliki sebelas divisi.
Beberapa kerajaan pada zaman India kuno seperti Kerajaan Dwaraka,
Kerajaan Kasi, Kerajaan Kekeya, Magada, Matsya, Chedi, Pandya dan wangsa
Yadu dari Mandura bersekutu dengan para Pandawa; sementara sekutu para Korawa terdiri dari Raja
Pragjyotisha, Anga, Kekaya, Sindhudesa, Mahishmati, Awanti dari
Madhyadesa, Kerajaan Madra, Kerajaan Gandhara, Kerajaan Bahlika, Kamboja, dan masih banyak lagi.
Persiapan perang Pihak Pandawa
Melihat tidak ada harapan untuk berdamai, Yudistira, kakak sulung para
Pandawa, meminta saudara-saudaranya untuk mengatur pasukan mereka.
Pasukan Pandawa dibagi menjadi tujuh divisi. Setiap divisi dipimpin oleh
Drupada, Wirata, Drestadyumna, Srikandi, Satyaki, Cekitana dan Bima.
Setelah berunding dengan para pemimpin mereka, para Pandawa menunjuk
Drestadyumna sebagai panglima perang pasukan Pandawa. Mahabharata
menyebutkan bahwa seluruh kerajaan di daratan Indiautara bersekutu
dengan Pandawa dan memberikannya pasukan yang jumlahnya besar. Beberapa
di antara mereka yakni: Kerajaan Kekeya, Kerajaan Pandya, Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala, KerajaanMagadha, dan masih banyak lagi.
Persiapan perang Pihak Korawa
Duryodana meminta Bisma untuk memimpin pasukan Korawa. Bisma menerimanya
dengan perasaan bahwa ketika ia bertarung dengan tulus ikhlas, ia tidak
akan tega menyakiti para Pandawa.
Bisma juga tidak ingin bertarung di sisi Karna dan tidak akan
membiarkan-nya menyerang Pandawa tanpa aba-aba darinya. Bisma juga tidak
ingin dia dan Karna menyerang Pandawa bersamaan dengan ksatria Korawa
lainnya. Ia tidak ingin penyerangan secara serentak dilakukan oleh Karna
dengan alasan bahwa kasta Karna lebih rendah.
Bagaimanapun juga, Duryodana memaklumi keadaan Bisma dan mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa.
Pasukan dibagi menjadi sebelas divisi. Seratus Korawa dipimpin oleh
Duryodana sendiri bersama dengan adiknya — Duhsasana, putera kedua
Dretarastra, dan dalam pertempuran Korawa dibantu oleh Rsi Drona dan
putranya Aswatama, kakak ipar para Korawa — Jayadrata, guru Kripa,
Kritawarma, Salya, Sudaksina, Burisrawa, Bahlika, Sangkuni, dan masih
banyak lagi para ksatria dan Raja gagah perkasa yang memihak Korawa demi
Hastinapura maupun Dretarastra.
Pihak netral.
Kerajaan Widarbha dan rajanya, Raja Rukmi, selayaknya kakak Kresna,
Baladewa, adalah pihak yang netral dalam peperangan tersebut.
Divisi pasukan dan persenjataan.
Setiap pihak memiliki jumlah pasukan yang besar. Pasukan tersebut
dibagi-bagi ke dalam divisi (akshauhini). Setiap divisi berjumlah
218.700 prajurit yang terdiri dari:
- 21.870 pasukan berkereta kuda
- 21.870 pasukan penunggang gajah
- 65.610 pasukan penunggang kuda
- 109.350 tentara biasa
Senjata yang digunakan dalam perang di Kurukshetra merupakan senjata
kuno dan primitif, contohnya: panah; tombak; pedang; golok;
kapak-perang; gada; dan sebagainya. Paraksatria terkemuka seperti
Arjuna, Bisma, Karna, Aswatama, Drona, dan Abimanyu, memilih senjata
panah karena sesuai dengan keahlian mereka. Bima dan Duryodana memilih
senjata gada untuk bertarung.
Formasi militer.
Dalam setiap perang di zaman Mahabharata, formasi militer adalah hal yang penting. Dengan formasi yang baik dan sempurna, maka musuh juga lebih mudah ditaklukkan.
Ada beberapa formasi, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Formasi militer tersebut sebagai berikut:
- Krauncha Vyuha (formasi bangau)
- Chakra Vyuha (formasi cakram / melingkar)
- Kurma Vyuha (formasi kura-kura)
- Makara Vyuha (formasi buaya)
- Trisula Vyuha (formasi trisula)
- Sarpa Vyuha (formasi ular)
- Kamala atau Padma Vyuha (formasi teratai)
Sulit mengindikasi dengan tepat makna dari nama-nama formasi tersebut.
Nama formasi mungkin saja mengindikasi bahwa sebuah pasukan memilih
suatu bentuk tertentu (seperti elang, bangau, dll) sebagai formasi, atau
mungkin saja nama suatu formasi berarti strategi mereka mirip dengan
suatu hewan/hal tertentu.
Aturan perang.
Dua pemimpin tertinggi dari kedua belah pihak bertemu dan membuat “peraturan tentang perlakuan yang etis”—Dharmayuddha—sebagai aturan perang. Peraturan tersebut sebagai berikut:
- Pertempuran harus dimulai setelah matahari terbit dan harus segera dihentikan saat matahari terbenam.
- Pertempuran satu lawan satu; tidak boleh mengeroyok prajurit yang sedang sendirian.
- Dua ksatria boleh bertempur secara pribadi jika mereka memiliki senjata yang sama atau menaiki kendaraan yang sama (kuda, gajah, atau kereta).
- Tidak boleh membunuh prajurit yang menyerahkan diri.
- Seseorang yang menyerahkan diri harus menjadi tawanan perang atau budak.
- Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit yang tidak bersenjata.
- Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit yang dalam keadaan tidak sadar.
- Tidak boleh membunuh atau melukai seseorang atau binatang yang tidak ikut berperang.
- Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit dari belakang.
- Tidak boleh menyerang wanita.
- Tidak boleh menyerang hewan yang tidak dianggap sebagai ancaman langsung.
Peraturan khusus yang dibuat untuk setiap senjata mesti diikuti. Sebagai
contoh, dilarang memukul bagian pinggang ke bawah pada saat bertarung
menggunakan gada.Bagaimanapun juga, para ksatria tidak boleh berjanji
untuk berperang dengan curang.
Kebanyakan peraturan tersebut dilanggar sesekali oleh kedua belah pihak.
JALANNYA PERTEMPURAN.
- Persiapan Tempur
- Beberapa saat sebelum perang
Pasukan Pandawa diatur oleh Yudistira dan Arjuna agar membentuk “formasi
Vajra”. Karena pasukan Pandawa lebih kecil daripada pasukan Korawa,
maka strategi berperang dibuat agar memungkinkan pasukan yang kecil
untuk menyerang pasukan yang besar. Sesuai strategi Pandawa, pasukan
pemanah akan menghujani musuh dengan panah dari belakang pasukan garis
depan. Pasukan garis depan menggunakan senjata langsung jarak pendek
seperti: gada, pedang, kapak, tombak, dll. Pasukan Korawa terdiri dari
sebelas divisi di bawah perintah Bisma. Sepuluh divisi pasukan Korawa
membentuk barisan yang sangat hebat, sedangkan divisi kesebelas masih
berada di bawah aba-aba langsung dari Bisma, dan sebagian divisi
melindunginya dari serangan langsung karena Resi Bisma sangat berguna
dan merupakan harapan untuk menang.
Setelah sepakat dengan formasi dan strategi masing-masing, pasukan kedua
belah pihak berbaris rapi. Para Raja dan ksatria gagah perkasa tampak
siap untuk berperang. Duryodana optimis melihat pasukan Korawa memiliki
para ksatria tangguh yang setara dengan Bima dan Arjuna. Namun ada
tokoh-tokoh lain yang setara dengan mereka seperti Yuyudana, Wirata, dan
Drupada yang ia anggap sebagai batu rintangan dalam mencapai kajayaan
dalam pertempuran. Ia juga optimis karena ksatria-ksatria yang sangat
ahli di bidang militer, yaitu Bisma, Karna, Kritawarma, Wikarna,
Burisrawas, dan Kripa, ada di pihaknya. Selain itu Raja agung seperti
Yudhamanyu dan Uttamauja yang sangat perkasa juga turut berpartisipasi
dalam pertempuran sebagai penghancur bagi musuh-musuhnya. Bisma, dengan
diikuti oleh Para Raja dan ksatria dari kedua belah pihak meniup
“sangkala” (terompet kerang) mereka tanda pertempuran akan segera
dimulai.
Ketika terompet sudah ditiup dan kedua pasukan sudah berhadap-hadapan,
bersiap-siap untuk bertempur, Arjuna menyuruh Kresna, guru spiritual
sekaligus kusir keretanya, agar mengemudikan keretanya menuju ke tengah
medan pertempuran supaya ia bisa melihat, siapa yang siap bertempur dan
siapa yang harus ia hadapi.
Tiba-tiba Arjuna dilanda perasaan takut akan kemusnahan wangsa Bharata,
keturunan Kuru, nenek moyangnya. Arjuna juga dilanda kebimbangan akan
melanjutkan pertarungan atau tidak. Ia melihat kakek tercintanya,
bersama-sama dengan gurunya, paman, saudara sepupu, ipar, mertua, dan
teman bermain semasa kecil, semuanya kini berada di Kurukshetra, harus
bertarung dengannya dan saling bunuh. Arjuna merasa lemah dan tidak tega
untuk melakukannya Arjuna menjadi gelisah untuk berperang melawan
saudara-saudaranya.
Dilanda oleh pergolakan batin, antara mana yang merupakan ajaran agama,
mana yang benar dan mana yang salah, Arjuna bertanya kepada Kresna yang
mengetahui dengan baik segala ajaran agama. Kresna, yang memilih menjadi
kusir kereta Arjuna, menjelaskan dengan panjang lebar ajaran-ajaran
ketuhanan dan kewajiban seorang ksatria, agar dapat membedakan antara
yang baik dengan yang salah. Ajaran tersebut kemudian dirangkum menjadi
sebuah kitab filsafat yang sangat terkenal yang bernama Bhagawad Gita.
Dalam Bhagawad Gita, Kresna menyuruh Arjuna untuk tidak ragu dalam
melakukan kewajibannya sebagai seorang ksatria yang berada di jalur yang
benar. Ia juga mengingatkan bahwa kewajiban Arjuna adalah membunuh
siapa saja yang ingin mengalahkan kebajikan dengan kejahatan. Kemudian
Sri Kresna menunjukkan bentuk semestanya kepada Arjuna, agar Arjuna tahu
siapa ia sesungguhnya sehingga segala keraguan dalam hatinya sirna.
Dalam wujud semesta tersebut, ia meyakinkan Arjuna bahwa sebagian besar
para ksatria perkasa di kedua belah pihak telah dihancurkan, dan yang
bertahan hidup hanya beberapa orang saja, maka tanpa ragu Arjuna harus
mau bertempur.
Sebelum pertempuran dimulai, Yudistira melakukan sesuatu yang
mengejutkan. Tiba-tiba ia meletakkan senjata, melepaskan baju zirah,
turun dari kereta dan berjalan ke arah pasukan Korawa dengan mencakupkan
tangan seperti berdoa. Para Pandawa dan para Korawa tidak percaya
dengan apa yang dilakukannya, dan mereka berpikir bahwa Yudistira sudah
menyerah bahkan sebelum panah sempat melesat. Ternyata Yudistira tidak
menyerah. Dengan hati yang suci Yudistira menyembah Bisma dan memohon
berkah akan keberhasilan. Bisma, kakek dari para Pandawa dan Korawa,
memberkati Yudistira. Setelah itu, Yudistira kembali menaiki keretanya
dan pertempuran siap untuk dimulai.
- Pembantaian Bisma
- Duel Arjuna dengan Bisma
Pada hari kedua, Arjuna bertekad untuk membalikkan keadaan yang didapat
pada hari pertama. Arjuna mencoba untuk menyerang Bisma dan membunuhnya,
namun para pasukan Korawa berbaris di sekeliling Bisma dan
melindunginya dengan segenap tenaga sehingga meyulitkan Arjuna. Pasukan
Korawa menyerang Arjuna yang hendak membunuh Bisma. Kedua belah pihak
saling bantai, dan sebagian besar pasukan Korawa gugur di tangan Arjuna.
Setelah menyapu seluruh pasukan Korawa, Arjuna dan Bisma terlibat dalam
duel sengit. Sementara itu Drona menyerang Drestadyumna bertubi-tubi
dan mematahkan panahnya berkali-kali. Bima yang melihat keadaan tersebut
menyongsong Drestadyumna dan menyelamatkan nyawanya. Duryodana mengirim
pasukan bantuan dari kerajaan Kalinga untuk menyerang Bima, namun
serangan dari Duryodana tidak berhasil dan pasukannya gugur semua.
Setyaki yang bersekutu dengan Pandawa memanah kusir kereta Bisma sampai
meninggal. Tanpa kusir, kuda melarikan kereta Bisma menjauhimedanlaga.
Di akhir hari kedua, pihak Korawa mendapat kekalahan.
- Kemarahan Kresna
Arjuna dan Kresna mencoba menyerang Bisma. Arjuna dan Bisma sekali lagi
terlibat dalam pertarungan yang bengis, meskipun Arjuna masih merasa
tega dan segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi sangat marah
dengan keadaan itu dan berkata, “Aku sudah tak bisa bersabar lagi, Aku
akan membunuh Bisma dengan tanganku sendiri,” lalu ia mengambil
chakra-nya dan berlari ke arah Bisma. Arjuna berlari mengejarnya dan
mencegah Kresna untuk melakukannya. Kemudian mereka berdua melanjutkan
pertarungan dan membinasakan banyak pasukan Korawa.
- Keberanian Bima
- Pertempuran terus berlanjut Pada hari kelima.
Hari keenam merupakan hari pembantaian yang hebat. Drona membantai
banyak prajurit di pihak Pandawa yang jumlahnya sukar diukur. Formasi
kedua belah pihak pecah.
Pada hari kedelapan, Bima membunuh delapan putera Dretarastra. Putera Arjuna—Irawan—terbunuh oleh para Korawa.
Pada hari kesembilan Kresna marah lagi sebab Arjuna masih segan untuk
mengalahkan Bhishma, lalu ia bergerak menuju pasukan Korawa. Arjuna
sekali lagi menghentikan Kresna.
- Kekalahan Bisma
Pada hari kesepuluh, Pandawa yang merasa tidak mungkin untuk mengalahkan
Bisma menyusun suatu strategi. Arjuna berencana untuk menempatkan
Srikandi di depan keretanya, dan ia sendiri akan menyerang Bisma dari
belakang Srikandi. Bisma yang tidak tega untuk menyerang seorang wanita,
tidak bisa menyerang Arjuna karena dihalangi Srikandi. Hal itu
dimanfaatkan Arjuna untuk mehujani Bisma dengan ribuan panah yang mampu
menembus baju zirahnya. Ratusan panah di tubuh Bisma menancap sampai
menembus badannya.
Sang ksatria besar terjatuh dari keretanya, namun badannya tidak
menyentuh tanah karena ditopang oleh panah yang menancap di tubuh.
Pandawa dan Korawa menghentikan pertarungannya sejenak lalu mengelilingi
Rsi Bisma. Bisma menyuruh Arjuna untuk meletakkan tiga anak panah di
bawah kepalanya sebagai bantal. Meskipun sudah tak berdaya, Bisma mampu
hidup selama beberapa hari dan menyaksikan kehancuran pasukan Korawa.
- Yudistira mau ditangkap
Dengan kekalahan Rsi Bisma pada hari
kesepuluh, Karna kembali kemedanlaga dan melegakan hati Duryodana. Ia
mengangkat Drona sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Karna dan
Duryodana berencana untuk menangkap Yudistira hidup-hidup. Membunuh
Yudistira dimedanlaga hanya membuat para Pandawa semakin marah,
sedangkan dengan adanya Yudistira para Pandawa mendapatkan strategi
perang. Drona membantu Karna dan Duryodana untuk menaklukkan Yudistira.
Ia memanah busur Yudistira hingga patah. Para Pandawa cemas karena
Yudistira akan menjadi tawanan perang. Melihat hal itu, Arjuna turun
tangan dan menghujani Drona dengan panah dan menggagalkan rencana
Duryodana.
Setelah menerima kegagalan, Drona yakin bahwa rencana untuk menaklukkan
Yudistira sulit diwujudkan selama Arjuna masih ada. Raja Trigarta —
Susharma — bersama dengan 3 saudaranya dan 35 putera mereka berada di
pihak Korawa dan mencoba untuk membunuh Arjuna atau sebaliknya, mati di
tangan Arjuna. Mereka turun kemedanlaga pada hari kedua belas dan
langsung menyerbu Arjuna. Namun mereka tidak berhasil sehingga gugur
satu persatu. Semakin hari kekuatan para Pandawa semakin bertambah dan
memberikan pukulan yang besar kepada pasukan Korawa.
Untuk menghancurkan mereka, Duryodana mencoba memanggil Bhagadatta, Raja
Pragjyotisha. Bhagadatta merupakan putera dari Narakasura, raja jahat
yang dibunuh oleh Kresna beberapa tahun sebelumnya. Bhagadatta memiliki
ribuan mammoth, gajah yang berukuran sangat besar sebagai kekuatan
pasukannya. Bhagadatta merupakan ksatria terkuat di antara seluruh
pasukan penunggang gajah di dunia. Bhagadatta mencoba menyerang Arjuna
dengan ribuan gajahnya. Pertempuran terjadi dengan sangat sengit. Karena
Arjuna sibuk dalam pertarungan yang sengit, ia kesulitan untuk
mematahkan formasi Cakravyhuha. Yudistira melihat hal tersebut dan
menyuruh Abimanyu, putera Arjuna, untuk membantu ayahnya keluar dari
perangkap formasi Cakravyuha. Arjuna berhasil keluar namun sebaliknya,
Abimanyu terperangkap dan terbunuh. Pada hari kedua belas, setelah
melalui pertarungan yang sengit, akhirnya Bhagadatta dan Susharma gugur
di tangan Arjuna.
AKHIR PEPERANGAN
Pertempuran berlangsung selama 18 hari penuh. Setelah kematian Abimanyu, Bhagadatta, Susharma dan saudara-saudaranya pada hari ke-12, pertempuran berlangsung dengan ganas selama enam hari berikutnya.
Pada akhir hari ke-18, hanya sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari
pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Setyaki, Aswatama,
Kripa dan Kritawarma. Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura.
Setelah memerintah selama beberapa lama, ia menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, Parikesit.
Kemudian, ia bersama Pandawa dan Dropadi mendaki gunung Himalayasebagai
tujuan akhir perjalanan mereka. Dropadi dan empat Pandawa, kecuali
Yudistira, meninggal dalam perjalanan. Akhirnya Yudistira berhasil
mencapai puncakHimalaya, dan dengan ketulusan hatinya, oleh anugerah
Dewa Dharma ia diizinkan masuk surga sebagai seorang manusia.
Sumber Gambar : Serial TV : Mahabharat, Produksi StarTV.
Jika anda berminat mempelajari fakta seputar kisah Mahabarata, silahkan kunjungi link berikut:
Jika anda berminat mempelajari fakta seputar kisah Mahabarata, silahkan kunjungi link berikut:
Baca juga :
- Segala Hal Tentang Kisah Perang Besar Mahābhārata.
- Inilah Kisah Baratayuda, Perang Besar Mahabarata Versi Indonesia !
- Kurukshetra : Inilah Lokasi Tempat Terjadinya Pertempuran Besar "Mahabharata" atau "Barata Yudha", Apa Kabarnya Sekarang ?
- Head to head : Gatotkaca Legenda Manusia Perkasa Putera Bima : Versi India vs Versi Indonesia !
- Inilah Kisah Akhir Kehidupan Sri Krishna Dan Pandawa Setelah Perang Besar Mahabarata.
- Kisah Nyata : Dwaraka (Dwarawati), Kota Sang Khrisna yang Tenggelam......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar